Posted on

Mount Bromo in my Lens

Hmm, akhirnya aku menapakkan lagi kakiku di puncak gunung bromo untuk kedua kalinya. Kali ini dengan suasana dan kelompok yang berbeda. yach, hari sabtu kemaren, aku berangkat bersama rombongan panitia dan peserta National Pigmen Conference 2010.Kami berangkat menuju gunung Bromo sekitar pukul 01.00 wib dini hari. Kami berangkat menggunakan 5 buah mobil type L300. Saya berada pada mobil ke-empat bersama Ekak, Mutiara, Yosephin, Barbara, Tasya, Benny, Yendy, Vania, Anton dan dua orang tour guide yang telah disiapkan oleh pihak travel.

Seperti biasanya, perjalanan menuju Bromo menghabiskan waktu  2 jam lamanya. Sayang, selama perjalanan saya memilih untuk beristirahat sehingga melewatkan setiap gerak senyum bintang di malam yang cerah itu. Akhirnya, kami sampai di pos tempat pembelian tiket dan berhenti sejenak sekadar untuk melepas rasa letih selama perjalanan tadi. Setelah kembali bugar, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak pananjakan untuk melihat fenomena matahari terbit yang akan selalu lain dari waktu ke waktu tatkala kita mengunjungi puncak pananjakan.

Hawa dingin di puncak sudah mulai terasa ketika tiba di pos pembelian tiket. Kali ini, persiapan yang kulakukan lebih baik daripada pertama kali aku datang ke Bromo sehingga dinginnya Bromo masoh dapat kutangkal dengan sebuah jaket army, celana polri, swal bermotif kain adat daerahku, topi, kaus tangan dan sekaleng bir bintang. Sesampainya di puncak, kami disuguhi minuman hangat dan sebuah Pop Mie rebus. Kebersamaan ini sungguh indah, sehingga setiap moment itu kemudian didokumentasikan yang nantinya menjadi sebuah kisah klasik di masa depan.

Setelah menghangatkan badan dengan semangkuk pop mie, bergegaslah kami menuju tempat dimana dari sanalah akan terlihat keajaiban pemandangan yang Tuhan ciptakan. Saat itu, begitu banyak manusia yang datang sehingga tempat itu mulai rame dan penuh. Saya pun tak ingin  melewatkan pemandangan yang indah itu. Karena itu dengan cepat mencari tempat yang selayaknya bisa dijadikan angle terbaik. Akhirnya, saya mendapatkan angle tersebut walaupun sebenarnya tidak bisa  disebut angle yang terbaik. Tapi diatas tempat sampah inilah saya berusaha mengabadikan momentum bersinarnya matahari. Saat itu saya bersama dosen saya Pak Daniel pun mulai berburu foto. Inilah beberapa foto di puncak pananjakan yang sempat saya abadikan.

Setelah puas menikmati indahnya matahari terbit, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Gunung Bromo. Jalan menuju Gunung Bromo terlihat rusak akibat longsor beberapa waktu yang lalu. Sesampainya di Bromo, kami pun langsung berangkat menuju kawah Bromo. Tak ingin melewatkan kesempatan yang ada, akhirnya ku dokumentasikan pemandangan dari atas kawah Bromo.

Bromo memang sangat mempesona, keunikan alam yang dimilikinya akan selalu membuat kita ingin kembali menapakkan kaki di Bromo. Bromo adalah lukisan terindah, patutlah kita syukuri  dan menjaganya. Akhirnya, setelah cukup puas menikmati alam Bromo, kami pun balik ke mobil untuk segera kembali ke Malang ^^.

Advertisement

4 Responses to Mount Bromo in my Lens

  1. PERTAMAX

    wah mantab niy gan
    ditunggu presentasinya
    sama penasaran juga yang resolusi aslinya :D

  2. Anindya

    fotomu keren-keren, sep.. Aseli, sumpe deh.. Lanjut, Gan.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s