Mount Bromo in my Lens

Hmm, akhirnya aku menapakkan lagi kakiku di puncak gunung bromo untuk kedua kalinya. Kali ini dengan suasana dan kelompok yang berbeda. yach, hari sabtu kemaren, aku berangkat bersama rombongan panitia dan peserta National Pigmen Conference 2010.Kami berangkat menuju gunung Bromo sekitar pukul 01.00 wib dini hari. Kami berangkat menggunakan 5 buah mobil type L300. Saya berada pada mobil ke-empat bersama Ekak, Mutiara, Yosephin, Barbara, Tasya, Benny, Yendy, Vania, Anton dan dua orang tour guide yang telah disiapkan oleh pihak travel.

Seperti biasanya, perjalanan menuju Bromo menghabiskan waktu  2 jam lamanya. Sayang, selama perjalanan saya memilih untuk beristirahat sehingga melewatkan setiap gerak senyum bintang di malam yang cerah itu. Akhirnya, kami sampai di pos tempat pembelian tiket dan berhenti sejenak sekadar untuk melepas rasa letih selama perjalanan tadi. Setelah kembali bugar, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak pananjakan untuk melihat fenomena matahari terbit yang akan selalu lain dari waktu ke waktu tatkala kita mengunjungi puncak pananjakan.

Read more

Mamograph 1st Anniversary

Mengenal Lomogafi

Leningsradskoye Optiko Mechaninicheskoye (LOMO) adalah sebuah perusahaan Rusia yang memproduksi “spy-ware” bagi para tentara di negara asalnya. Salah satunya adalah kamera LC-A yang kemudian “ditemukan kembali” oleh sepasang pemuda yang berasal dari Austria. Bisa dikatakan kamera ini memiliki banyak kelemahan. Namun, kelemahan tersebutlah yang menjadikan kamera ini berkarakter( a perfection from imperfection). Keunikan dari kamera lomo adalah suatu daya tarik bagi kebanyakan lomographer di penjuru dunia. Sebelum akhirnya kamera-kamera ini diproduksi ulang secara massal, lomografi sendiri telah menjadi semacam gerakan perlawanan yang dapat dikatakan sebagai titik balik dari kejenuhan pecinta fotografi yang terlalu banyak menuntut kesempurnaan dalam berkarya sekaligus menembus stagnansi kreatifitas digitalisasi fotografi itu sendiri. Mengapa demikian, karena lomographer sendiri sudah tidak lagi mengindahkan masalah pembingkaian, komposisi warna atau pun hal lainnya yang dalam konteks fotografi hal itu dirasa penting. Dengan semangat 10-Golden Rules of Lomography, dan salah satunya “don’t think, just shoot” seakan memberi kebebasan mutlak bagi para pecinta kamera lomo untuk berkarya tanpa lagi memperdulikan aspek “kesempurnaan” fotografi.

Read more

Hunting Part 2: Foto Siluet

Hari Sabtu tanggal 7 November 2009, saya dan beberapa teman anggota SCOPE Photography mengadakan hunting yang bertempat di daerah batu tepatnya Gunung Banyak atau yang lebih dikenal dengan nama Paralayang. Kami berangkat sekitar pukul o5.00 lebih. Tujuan dari hunting ini adalah untuk melatih para anggota baru dari klub foto ini untuk lebih memahami teknik memotret yang benar.

Terlepas dari kegiatan tersebut, saya juga menyempatkan diri untuk mempraktekkan skill foto saya terutama untuk mengambil foto siluet. Foto siluet itu sendiri dari sudut pandang teknis yang saya pahami adalah foto dimana objek utama menjadi gelap yang mana menonjolkan garis atau bentuk dari objek itu saja. Berikut adalah dua foto siluet yang sempat saya abadikan.

pemuja matahari

model: Adam Fatchurrozi, ISO 100, f/10, S:1/4000s

Read more

Street Photography

Dunia fotografi memang penuh dengan kejutan. Baru saja mengenal beberapa jenis foto seperti foto landscapes, foto model, foto jurnalistik, foto makro, dan foto produk, tak tanggung- tanggung saya kembali mendapat pengetahuan dalam dunia fotografi. Kali ini berasal dari mas Ichwan yang memberikan presentasi foto tentang Street Fotography.

Read more

HUNTING FASHION part I: DIES NATALIS HMJF

Saturday, 21 March 2009, I delegated SCOPE to attending the 21th anniversary of HMJF (Himpunan Mahasiswa Jurnalistik dan Fotografi) in Kanjuruhan University. The agenda consist of “Gelar karya foto“, fashion show, accoustic, and many more. Gelar karya foto was held a week ago whereas fashion and accoustic held in the day.

Read more

Bantengan Nuswantara 2009

Meriah, itu kata pertama yang pantas diucapkan pada acara Bantengan Nuswantara yang diselenggarakan pada tanggal 8 Maret 2009 kemarin. Bagaimana tidak, peserta yang ikut berpartisipasi tidak tanggung – tanggung lebih dari 30 puluhan grup dari berbagai daerah di Jawa Timur. Tak kalah dengan jumlah peserta, penonton yang hadir pun hampir tak terbilang jumlahnya.

Acara bantengan ini merupakan suatu simbol penghargaan terhadap budaya Indonesia yang begitu beraneka ragam. Acara bantengan tersebut menampilkan berbagai macam atraksi dari masing- masing grup, antara lain, bantengan itu sendiri, pencak silat, tarian dan ilmu kebal lainnya.

Read more